SULAWESI BARAT — Keputusan Kodaline untuk keluar dari format panggung utama (main stage) menandai perubahan strategi artistik yang jarang dilakukan oleh bintang internasional. Alih-alih tampil di panggung terbesar yang biasanya menjadi pusat perhatian massa, band peraih sertifikasi platinum ini justru memilih Karma Stage sebagai panggung pamungkas mereka.
Carmel Puma mengonfirmasi langsung permintaan tidak lazim tersebut. "Mereka secara spesifik meminta tata panggung yang lebih intim dan dekat dengan penonton," ujarnya. Puma menambahkan bahwa pihak promotor telah menyetujui seluruh spesifikasi teknis yang diajukan manajemen Kodaline, termasuk tata cahaya dan desain panggung yang lebih personal.
Mengapa Kodaline Menolak Panggung Utama?
Keputusan ini mematahkan asumsi umum bahwa headliner selalu menginginkan area terluas untuk menjangkau puluhan ribu penonton. Dalam kasus Kodaline, justru sebaliknya. Permintaan untuk tampil di panggung kedua terbesar tersebut mengindikasikan keinginan band untuk membangun koneksi emosional yang lebih intens dengan penonton, sesuatu yang sulit dicapai di panggung raksasa dengan jarak fisik yang jauh.
Perbedaan mencolok dengan penampilan mereka sedekade lalu di Cikole, Bandung, memperkuat sinyal ini. Pada 2016, Kodaline masih dalam fase promosi album kedua mereka. Kini, dengan diskografi yang jauh lebih matang, mereka tampaknya ingin menghadirkan pengalaman mendengarkan yang lebih dekat, alih-alih sekadar pertunjukan spektakuler.
Dampak pada Pengalaman Penonton dan Tata Kelola Festival
Pergeseran lokasi ini otomatis mengubah pola distribusi penonton di area festival. Karma Stage diprediksi akan menjadi titik kerumunan tertinggi saat Kodaline naik panggung sebagai penampil terakhir. Panitia pelaksana dipastikan akan menyiapkan skema pengaturan antrean dan manajemen kapasitas khusus untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung di area tersebut.
Konsekuensinya, penonton yang ingin mendapatkan posisi terbaik di depan panggung harus datang lebih awal dibandingkan jika Kodaline tampil di main stage. Hal ini berpotensi mengubah strategi pengunjung dalam menyusun jadwal menonton penampil lain sepanjang hari.
Bagi Kodaline, langkah ini bukan sekadar soal teknis panggung. Ini adalah pernyataan artistik yang menegaskan posisi mereka sebagai band yang mengutamakan kualitas musikal di atas kemegahan produksi. Penonton LaLaLa Festival 2026 yang hadir pada 22 Agustus mendatang akan menjadi saksi bagaimana sebuah grup sebesar Kodaline justru memilih ruang yang lebih sempit demi menciptakan momen yang lebih personal dan berkesan.