SULAWESI BARAT — Sofia Coppola tampil dalam sesi bincang BFI London Film Festival di Royal Festival Hall, London, membahas dokumenter Making Marie Antoinette yang disutradarai ibunya, Eleanor Coppola. Dokumenter itu merangkum lebih dari 80 jam rekaman di balik layar dan tayang dua setengah tahun setelah Eleanor meninggal. Coppola juga menyinggung rencananya kembali ke film naratif usai menggarap dua proyek dokumenter.
Sutradara peraih Oscar itu mengaku tak bisa membuat Marie Antoinette tanpa kesuksesan Lost in Translation. Kepada pewawancara Edith Bowman, Coppola menyebut kesuksesan film yang dibintangi Bill Murray dan Scarlett Johansson itu membuka pintu untuk proyek besar berikutnya.
"You kind of get a free pass to do whatever you want," ujarnya. "I wouldn't have been able to make [Marie Antoinette] before because it was a big-scale, big-budget movie."
Eleanor Coppola Rekam 80 Jam Lebih di Lokasi
Eleanor Coppola, yang menikah dengan sutradara Francis Ford Coppola pada 1971, mengarahkan kamera ke putrinya sendiri selama produksi Marie Antoinette. Ia merekam lebih dari 80 jam materi di balik layar dan di lokasi syuting, termasuk saat Sofia berusia 34 tahun.
Dokumenter Making Marie Antoinette disusun Sofia bersama editor Aaron Matthews dengan masukan dari kawan-kawan dekat Eleanor. Film ini tayang di BFI London Film Festival ke-70, dua setengah tahun setelah Eleanor meninggal.
Marie Antoinette sendiri benar-benar mengambil lokasi syuting di Palace of Versailles. Menurut Sofia, kehadiran ibunya di lokasi jadi hal yang melegakan di tengah proyek yang menegangkan.
"But it was really nice to have her on set because it was a big, stressful, daunting project," kata Sofia. "And when my mom shows up… Everyone was happy to have my mom there because she's such a grounding presence."
Wasiat Terakhir Eleanor Coppola
Sofia mengaku tak menyadari betapa banyak rekaman yang disimpan ibunya. Ia baru mengetahui saat pulang ke Northern California dan Eleanor mengajaknya membuka arsip tersebut.
"She wanted to