PASANGKAYU — Kekeringan yang dipicu fenomena El Niño membuat curah hujan sangat rendah dalam waktu panjang sehingga cadangan air tanah menipis. Sumur yang masih berair hanya menyisakan debit terbatas, bahkan keruh.
Warga pun kesulitan memperoleh air untuk minum, memasak, mandi, dan mencuci. Sebagian terpaksa membeli air bersih, menambah beban pengeluaran rumah tangga.
BPBD Kabupaten Pasangkayu mencatat 17 desa dan kelurahan sudah terdampak. Potensi kelangkaan air bersih diperkirakan meluas ke 12 kecamatan, 59 desa, dan empat kelurahan.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan dan menurunkan kualitas hidup masyarakat jika kebutuhan air bersih tidak segera terpenuhi.
Dalam laporan kebutuhan mendesak, BPBD Kabupaten Pasangkayu mengusulkan sejumlah peralatan untuk mendukung penanganan kekeringan:
Peralatan tersebut dibutuhkan untuk mendukung operasional penanganan kekeringan dan membantu masyarakat memperoleh akses air.
Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Barat Muhammad Yasir Fattah mengatakan pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pasangkayu untuk memastikan kondisi terkini warga terdampak dan kebutuhan penanganan di lapangan.
"Informasi ini menjadi perhatian kita bersama. BPBD Sulawesi Barat akan memastikan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pasangkayu berjalan dengan baik, terutama untuk mengetahui kebutuhan riil masyarakat di setiap lokasi terdampak," kata Yasir.
Menurut Yasir, langkah penanganan dilakukan sesuai arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana, dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
BPBD Sulawesi Barat menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi melalui Pusdalops serta berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Pasangkayu dan pemerintah daerah setempat. Koordinasi itu dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat di setiap lokasi terdampak dapat diidentifikasi dan penanganan kekeringan berjalan terarah.